Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat

15 Agu

Gresik, 15 Agustus 2011

Ditulis oleh : Aries Pratama Kurniawan

"Ganti Hati"

Menarik sekali untuk membaca dan meresapi tulisan Bapak Dahlan Iskan (CEO PLN), tulisan yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari salah satunya yang ada pada buku Ganti Hati yang ditulis oleh Bapak Dahlan Iskan. Tulisan ini sebenarnya bukan murni tulisan saya, namun saya cuplik kembali dari tulisan salah seorang kawan yang memberikan komentar terhadap tulisan dari Bapak Dahlan Iskan, tulisan yang mengangkat tema karakter dan kepribadian dari bangsa China, dalam berbagai kondisi baik susah maupun dalam keadaan berada, bangsa China tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak minder akan profesi yang bagi kebanyakan kita dianggap “rendahan”, dan tidak menjadi semena-mena saat mendapatkan posisi yang “nyaman”. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan “asupan gizi” bagi kita semua walaupun saat ini kita sedang menjalankan ibadah puasa. Berikut tulisan beliau yang saya lompati beberapa paragraf. Selamat membaca….!

——————————————————————————————————————————————-

…..saya sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria didalam lift atau dilobi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. “Siapa ya wanita cantik ini,” sering saya bertanya dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya.

Rupanya, biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatana rambutnya, cara membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia.

Perawat disini memang disediakan kamar mandi dan ruang ganti baju. Setiap masuk kerja, mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika pulang kerja. Ini agar kuman dan debu yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Maklum saat berangkat kerja banyak juga yang naik bus kota atau naik sepeda.

Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem, sama. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi begitu pulang, sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celanannya hot pan (maklum, musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaanya tukang pel lantai. Demikian juga, meski berangkat kerja dengan amat modisnya, ketika kerja “rendahan” tidak ogah-ogahan.

Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan di Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, tapi harga dirinya lebih baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga mereka itu kalau ketemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Dan itu menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini yang disebut social-capital atau modal sosial. Bank Dunia menyebut modal sosial ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok belakangan ini, disamping modal finansial.

Maka muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni satu moto ” Kaya Bermafaat, Miskin Bermartabat”. saya dan Zainal, dan banyak lagi yang lain, akan bisa jadi model perjuangan ini. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan ketika sudah menjadi kaya (duille!) tidak semena-mena.

Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit dibelakang pasar Ketajaya, Surabaya. Tidak jauh dari rel kereta api. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.

Waktu harus wawancara ke daerah industridi Tandes, Margomulyo, saya hanya punya uang Rp. 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya saja. dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp. 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp. 50. Selesai wawancara saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya, meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya.

Waktu suatu saat saya harus pulang kampung ke Kaltim tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket pesawat. Tapi saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik kendaraan umum berupa jeep terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Sebuah perjalanan menembus hutan Kalimantan dari selatan ke utara yang memakan waktu 2 hari satu malam. Belum ada bus waktu itu. saya hampir khawatir dengan istri saya. Maka saya bilang pada sopir agar istri saya boleh naik di kursi dekat sopir. “Istri saya hamil muda,” kata saya.

“Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat”, akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau bangsa yang kalau melihat orang kaya, yang muncul duluan adalah kecemburuannya. Bangsa yang mudah di sogok dan dipermainkan. Yang mudah dibayar untuk misalnya sekedar berdemo.

Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan yang rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin sekali meniru ini untuk saya laksanakan di kantor saya di Graha Pena Surabaya. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Kalau upaya ini berhasil, maka penampilan Graha Pena akan lebih “keren”. Dan harga diri pegawai bagian itu akan sama tingginya dengan bagian lain.

Lalu, muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di Indonesia menjadi cantik, para wanita yang lalu lalang di kota harus juga terlihat cantik. Betapa pun bersihnya sebuah kota kalau yang lalu-lalang didalamnya kumuh-kumuh, kan tidak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya menarik harus memberikan penduduk wanitanya barang-barang ini secara gratis : baju, lipstik, eye shadow, sepatu dan biaya ke salon.

Ide itu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan belum tentu lipstiknya digunakan. Bisa-bisa dijual. Sebab, filsafat “Kaya Bermanfaat, Miskin Bermanfaat” belum menjadi budaya.

Waktu mulai membenahi Jawa Pos yang hampir bangkrut di tahun 1982, saya pernah membelikan susu kepada karyawan percetakan yang kerja sepanjang malam. Tiap malam satu kaleng besar. Saya lihat karyawan di situ kurus-kurus, pucat-pucat dan loyo. Maklum gajinya amat kecil. Bahkan minum pun tidak disediakan oleh Jawa Pos. Mereka minum dari air keran. Begitu saya tahu, program susunisasi saya minta lakukan. Wenny, yang waktu itu pegawai rendahan dibagian umum (kini DIRUT Jawa Pos), saya minta tiap hari beli satu kaleng besar susu bubuk.

Tengah malam, ketika saya ke percetakan, saya lihat tidak ada bekas gelas minum susu. Saya tanya, mana susunya? sambil takut, salah satu menjawab. Ternyata susu itu dijual. Dijual secara bergilir. Hari ini karyawan A, besok karyawan B, lusa si C. Begitu seterusnya.

Harga diri harus dibangun juga. Memang perlu biaya. Untuk karyawan bagian cleaning service di Graha Pena, kami akan mencoba memberikan secara cuma-cuma dulu. Tentu tidak harus sampai pada hot pan, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. Saya berharap pemberian itu tidak akan dijual..

Salah satu kesimpulan saya adalah bahwa membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang rendah diri. Mereka bisa membedakan “rendah diri’ dan “rendah hati”. Sedang kita, kalau tidak mau dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat “unggah-ungguh”, “sopan-santun”, “tawaduk”, yang sebenarnya tetap bisa dilakukan tanpa harus jatuh ke derajat “rendah diri”.

——————————————————————————————————————————————–

sumber : catatan seorang kawan yang menghuni kamar kosong…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: