Saat Sahabat Kecilku, Dipanggil Bergiliran Ke Syurga

19 Jan

Copas dari http://situslakalaka-2.blogspot.com/2012/01/saat-sahabat-kecilku-dipanggil.html

Sangat menginspirasi….

————————————————————————————-

Saat Sahabat Kecilku, Dipanggil Bergiliran Ke Syurga

Aku tersenyum-senyum sambil menggenggam erat tas daur ulang besar yang kubawa. Setumpuk buku cerita, mainan, topi-topi lucu, buku mewarnai dan beberapa krayon memenuhi tas itu. Minggu ini aku membawa lebih banyak dari biasanya.

Tulisan-tulisanku yang mengisi berbagai media majalah anak-anak banyak dimuat bulan kemarin, hingga aku bisa membelikan anak-anak sahabat kecilku berbagai pesanan mereka. Ditambah pula beberapa buku cerita oleh beberapa sahabatku yang sudah tahu kegiatan bulananku ini. Ah, pasti mereka senang bisa mendapatkan lebih banyak dari biasanya. Lumayanlah buat menghibur hati mereka.

Semuanya berawal dari ujian yang berat beberapa bulan lalu, saat dokter mengatakan aku terkena kanker indung telur. Untunglah setelah menjalani operasi pengangkatan salah satu indung telurku, aku bisa selamat. Meskipun begitu, aku harus rutin memeriksakan diri.

Di masa-masa itulah, aku berkenalan dengan anak-anak manis penderita kanker darah. Kami bertemu tidak sengaja di playground area di rumah sakit. Saat itu, aku sedang sangat sedih karena harus kehilangan salah satu indung telurku. Kehilangan 50% kesempatan memiliki anak. Memang aku belum memiliki kekasih, tapi aku sangat suka anak-anak dan saat dokter mengatakannya dengan jelas bahwa kemungkinan aku akan sedikit sulit memiliki anak, aku jadi sangat sedih dan tanpa sengaja terus berjalan hingga ke playground area itu.

Anak-anak itu tertawa, saling melempar cerita dengan tangan terbelenggu selang infus. Dengan ceria, mereka bernyanyi dan saling menghibur ketika anak lain tampak lebih sakit. Senyuman di wajah pucat dengan kepala plontos menghias merata di ruanganplayground itu, menegurku secara tak langsung. Mereka mengingatkanku bahwa kesempatanku jauh lebih berharga dibanding mereka tapi mereka lebih bisa mensyukurinya.

Dan sejak itulah, aku tetap datang. Bukan sebagai pasien lagi, aku memilih menjadi sahabat anak-anak itu. Setiap senin minggu ke dua atau ke empat, aku selalu meluangkan waktu datang dan bermain bersama mereka. Setiap kali ada rezeki berlebih dari hasil menulis, aku membeli beberapa krayon atau buku mewarnai dan membaginya pada anak-anak itu.

Rezekiku tak pernah berkurang, justru bertambah karena anak-anak ini memberiku lebih banyak inspirasi. Kini beberapa sahabat turut serta dan ikut menyumbang. Kalau dulu sering melihat kekecewaan karena tidak kebahagiaan, sekarang semua itu hampir tak ada. Malah kadang-kadang bawaanku bersisa, dan biasanya kujadikan tambahan untukplayground area rumah sakit itu.

Ting! Suara pintu lift membuyarkan lamunanku. Aku sudah sampai di lantai yang kumau. Dengan langkah cepat aku menuju ruang playground area. Beberapa wajah yang kukenali langsung melambaikan tangan saat melihatku, beberapa berteriak memanggil dengan gembira, “Bundaaa datang!!” aku tersenyum lebar dan menghampiri mereka. Kusalami satu persatu, menyebutkan nama dan memeluk mereka. Kulihat beberapa wajah baru dan mendekati mereka.

“Siapa namanya, sayang?” tanyaku lembut pada seorang gadis kecil bermata besar yang rambutnya hampir habis.

“Mamaaa,” anak itu malah memeluk ibunya dengan takut-takut menatapku. Aku berlutut, kukeluarkan sebuah buku mewarnai dan krayon. Sambil tersenyum, kusodorkan kedua barang itu padanya, “Bunda bukan perawat, sayang. Bunda datang ke sini buat ngajarin anak-anak manis mewarnai. Nah ini buat adik, kalau nanti sudah nggak takut boleh gabung di situ. Ambillah!” ujarku. Anak itu masih menatapku, tapi tangannya terulur menerima pemberianku.

Aku akan beranjak ketika terdengar suara, “Cici. Nama saya Cici!” aku menoleh kembali. Gadis kecil itu menatapku, ada keinginan jelas di matanya kalau ia tertarik bergabung denganku. Aku mengangguk dan mengulurkan tangan, anak itupun berdiri lalu menggenggam erat tanganku. Satu lagi sahabat kecilku bertambah. Aku menggendongnya menuju salah satu sudut di mana sahabat-sahabat kecilku yang lain sedang menanti.

Kududukkan Cici di sisiku. Lalu aku memanggil satu persatu sahabat-sahabat kecilku. Anak-anak itu melonjak gembira, sejenak lupa pada penyakit mereka saat menerima hadiah kecilku. Setelah selesai, aku melihat beberapa anak yang sudah mengidap kanker pada stadium lanjut menatap iri dari kursi rodanya. Aku berdiri, membagikan buku cerita baru dan memasang topi lucu pada mereka. Kuminta pada pendamping mereka, biasanya ayah dan ibunya untuk membacakannya. Ada binar di bola mata anak-anak itu saat aku memberikannya. Sungguh luar biasa perasaan ini melihat kegembiraan sesaat itu.

Aku membimbing anak-anak mewarnai. Dengan sabar, aku menjelaskan warna yang bagus untuk buku mewarnai mereka. Walaupun terlihat aku mengajari mereka, sesungguhnya merekalah yang mengajariku. Mereka mengajariku tentang ketabahan, kedewasaan dan kepolosan dalam menghadapi ujian penyakit mereka.

“Bunda, sudah selesai!” sebuah suara terdengar dari belakangku. Aku kembali menoleh, Theo, salah satu sahabat kecilku menatapku dengan tangan memamerkan buku yang sudah diwarnai tuntas. Kuraih buku itu dan melihatnya. “Waah, bagus sekali warnanya!” pujiku tulus. Theo memang penggemar berat mewarnai. Selain cepat, ia bisa mewarnai dengan memadu padan warna begitu indah.

“Bunda, ini Theo balikin,” kata Theo sambil menyodorkan kotak berisi krayon yang baru kuserahkan.

Keningku mengernyit, “loh kenapa? Tadi kata Mama, krayon Theo hampir habis.”

Theo menghela nafas, “Punya Theo masih bisa dipakai. Sayang kan kalau yang ini nanti akan dibuang. Biar buat yang lain saja.”

“Kenapa harus dibuang, Theo? Kan Theo suka mewarnai,” tanyaku bingung.

“Bunda, Theo mungkin gak lama lagi dapet giliran ke surga. Belakangan ini Theo makin sering mimisan dan pingsan. Theo takut kalau nanti Theo ke surga, barang-barang Theo dibuang. sayang kan bun?”

Aku terpana. Kata-kata Theo bagai gong besar di telingaku. Anak-anak ini memang terbiasa menggunakan istilah giliran ke surga sebagai pengganti kata “meninggal dunia”. Aku bingung mesti menjawab apa, apalagi kulihat di belakang Theo terlihat mataMama Theo mulai berkaca-kaca saat mendengar jawaban anaknya.

Kusembunyikan rasa sedih dalam hatiku dengan tersenyum, “sini deh, Theo. Bunda ngasih krayon buat Theo, bukan hanya agar Theo senang karena bisa mewarnai. Tapi Bunda juga ingin karya Theo bisa meninggalkan kenangan buatMama Theo, buat Bunda, buat teman-teman Theo di sini.

Jadi kalau memang giliran ke surga jatuh pada Theo, kami di sini bisa mengenang Theo yang manis dan pandai mewarnai,” aku menarik nafas agar bisa tetap mengendalikan emosiku lalu kembali menyambung, “Theo, buat kami semua Theo adalah bagian dari hati kami, jadi apapun barang milik Theo tidak akan ada yang dibuang.

Jadi Theo jangan takut ya, pakailah!” aku kembali mengulurkan krayon itu pada Theo dan Theo menerimanya dengan anggukan. Ia melangkah mendekati Mamanya dengan tertatih. Aku buru-buru menghapus airmataku yang mulai menggenang.

Anak-anak ini memang sering membuatku seperti itu. Pembicaraan mereka bukanlah pembicaraan biasa. Kematian, rasa sakit, obat kanker, kemoterapi sampai kepala botak adalah hal biasa. Kadang mereka membuat model rambut unik di sisa-sisa rambut yang tertinggal agar dianggap lucu. Bagi mereka, kematian adalah proses perjalanan lain setelah hidup dan menerimanya sebagai pembebasan dari rasa sakit panjang mereka.

Berat rasanya melihat orang-orang yang kita sayangi, menjalani sakit yang luar biasa lalu menceritakannya seakan-akan itu adalah hal biasa terjadi. Dan aku hanya bisa melakukan hal kecil ini, menghibur dan mengisi hati mereka yang membosankan, membuat waktu singkat itu menjadi suatu kenangan luar biasa untuk orang-orang yang menyayangi mereka.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah hadiah dari Mama Theo. Dengan mata sembab karena menangis, ia menyodorkan beberapa buku mewarnai yang sudah selesai diwarnai. “Ini dari Theo, Bunda. Ia meminta saya memberikannya pada Bunda kalau giliran ke surganya tiba. Diterima ya Bunda, semoga bisa menjadi pembangkit semangat buat Bunda agar tetap memberi anak-anak lain semangat yang sama seperti Theo. Terima kasih karena sudah memberikan harapan dan hiburan buatnya selama ini.”

Airmataku meleleh tak terbendung. Kuambil hadiah itu dengan tangan gemetar, “Theo… kapan, kapan dia pergi, Mama?” tanyaku setengah tak percaya.

“Kemarin, tiga jam setelah kemoterapi. Dia meninggalkan kami… dia meninggal dalam tidurnya, Bunda,” dan sekali lagi airmata Mama Theo membasahi pipinya, aku memeluknya dan bersama kami menangis. Sama seperti saat-saat lain ketika bunda-bunda lain menyampaikan berita itu padaku, saat sahabat-sahabat kecilku dipanggil bergiliran ke surga.

Buat Semua Ibu yang selalu mendampingi putra-putri mereka saat sakit :
Semoga Allah SWT tetap memberi kalian semangat dan kekuatan… terutama Bunda-Bunda di Dharmais, senang berbicara dengan kalian. Optimis dan selalu tabah! (bundaiin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: