Saat Sahabat Kecilku, Dipanggil Bergiliran Ke Syurga

19 Jan

Copas dari http://situslakalaka-2.blogspot.com/2012/01/saat-sahabat-kecilku-dipanggil.html

Sangat menginspirasi….

————————————————————————————-

Saat Sahabat Kecilku, Dipanggil Bergiliran Ke Syurga

Aku tersenyum-senyum sambil menggenggam erat tas daur ulang besar yang kubawa. Setumpuk buku cerita, mainan, topi-topi lucu, buku mewarnai dan beberapa krayon memenuhi tas itu. Minggu ini aku membawa lebih banyak dari biasanya.

Tulisan-tulisanku yang mengisi berbagai media majalah anak-anak banyak dimuat bulan kemarin, hingga aku bisa membelikan anak-anak sahabat kecilku berbagai pesanan mereka. Ditambah pula beberapa buku cerita oleh beberapa sahabatku yang sudah tahu kegiatan bulananku ini. Ah, pasti mereka senang bisa mendapatkan lebih banyak dari biasanya. Lumayanlah buat menghibur hati mereka.

Semuanya berawal dari ujian yang berat beberapa bulan lalu, saat dokter mengatakan aku terkena kanker indung telur. Untunglah setelah menjalani operasi pengangkatan salah satu indung telurku, aku bisa selamat. Meskipun begitu, aku harus rutin memeriksakan diri.

Di masa-masa itulah, aku berkenalan dengan anak-anak manis penderita kanker darah. Kami bertemu tidak sengaja di playground area di rumah sakit. Saat itu, aku sedang sangat sedih karena harus kehilangan salah satu indung telurku. Kehilangan 50% kesempatan memiliki anak. Memang aku belum memiliki kekasih, tapi aku sangat suka anak-anak dan saat dokter mengatakannya dengan jelas bahwa kemungkinan aku akan sedikit sulit memiliki anak, aku jadi sangat sedih dan tanpa sengaja terus berjalan hingga ke playground area itu.

Anak-anak itu tertawa, saling melempar cerita dengan tangan terbelenggu selang infus. Dengan ceria, mereka bernyanyi dan saling menghibur ketika anak lain tampak lebih sakit. Senyuman di wajah pucat dengan kepala plontos menghias merata di ruanganplayground itu, menegurku secara tak langsung. Mereka mengingatkanku bahwa kesempatanku jauh lebih berharga dibanding mereka tapi mereka lebih bisa mensyukurinya.

Dan sejak itulah, aku tetap datang. Bukan sebagai pasien lagi, aku memilih menjadi sahabat anak-anak itu. Setiap senin minggu ke dua atau ke empat, aku selalu meluangkan waktu datang dan bermain bersama mereka. Setiap kali ada rezeki berlebih dari hasil menulis, aku membeli beberapa krayon atau buku mewarnai dan membaginya pada anak-anak itu.

Rezekiku tak pernah berkurang, justru bertambah karena anak-anak ini memberiku lebih banyak inspirasi. Kini beberapa sahabat turut serta dan ikut menyumbang. Kalau dulu sering melihat kekecewaan karena tidak kebahagiaan, sekarang semua itu hampir tak ada. Malah kadang-kadang bawaanku bersisa, dan biasanya kujadikan tambahan untukplayground area rumah sakit itu.

Ting! Suara pintu lift membuyarkan lamunanku. Aku sudah sampai di lantai yang kumau. Dengan langkah cepat aku menuju ruang playground area. Beberapa wajah yang kukenali langsung melambaikan tangan saat melihatku, beberapa berteriak memanggil dengan gembira, “Bundaaa datang!!” aku tersenyum lebar dan menghampiri mereka. Kusalami satu persatu, menyebutkan nama dan memeluk mereka. Kulihat beberapa wajah baru dan mendekati mereka.

“Siapa namanya, sayang?” tanyaku lembut pada seorang gadis kecil bermata besar yang rambutnya hampir habis.

“Mamaaa,” anak itu malah memeluk ibunya dengan takut-takut menatapku. Aku berlutut, kukeluarkan sebuah buku mewarnai dan krayon. Sambil tersenyum, kusodorkan kedua barang itu padanya, “Bunda bukan perawat, sayang. Bunda datang ke sini buat ngajarin anak-anak manis mewarnai. Nah ini buat adik, kalau nanti sudah nggak takut boleh gabung di situ. Ambillah!” ujarku. Anak itu masih menatapku, tapi tangannya terulur menerima pemberianku.

Aku akan beranjak ketika terdengar suara, “Cici. Nama saya Cici!” aku menoleh kembali. Gadis kecil itu menatapku, ada keinginan jelas di matanya kalau ia tertarik bergabung denganku. Aku mengangguk dan mengulurkan tangan, anak itupun berdiri lalu menggenggam erat tanganku. Satu lagi sahabat kecilku bertambah. Aku menggendongnya menuju salah satu sudut di mana sahabat-sahabat kecilku yang lain sedang menanti.

Kududukkan Cici di sisiku. Lalu aku memanggil satu persatu sahabat-sahabat kecilku. Anak-anak itu melonjak gembira, sejenak lupa pada penyakit mereka saat menerima hadiah kecilku. Setelah selesai, aku melihat beberapa anak yang sudah mengidap kanker pada stadium lanjut menatap iri dari kursi rodanya. Aku berdiri, membagikan buku cerita baru dan memasang topi lucu pada mereka. Kuminta pada pendamping mereka, biasanya ayah dan ibunya untuk membacakannya. Ada binar di bola mata anak-anak itu saat aku memberikannya. Sungguh luar biasa perasaan ini melihat kegembiraan sesaat itu.

Aku membimbing anak-anak mewarnai. Dengan sabar, aku menjelaskan warna yang bagus untuk buku mewarnai mereka. Walaupun terlihat aku mengajari mereka, sesungguhnya merekalah yang mengajariku. Mereka mengajariku tentang ketabahan, kedewasaan dan kepolosan dalam menghadapi ujian penyakit mereka.

“Bunda, sudah selesai!” sebuah suara terdengar dari belakangku. Aku kembali menoleh, Theo, salah satu sahabat kecilku menatapku dengan tangan memamerkan buku yang sudah diwarnai tuntas. Kuraih buku itu dan melihatnya. “Waah, bagus sekali warnanya!” pujiku tulus. Theo memang penggemar berat mewarnai. Selain cepat, ia bisa mewarnai dengan memadu padan warna begitu indah.

“Bunda, ini Theo balikin,” kata Theo sambil menyodorkan kotak berisi krayon yang baru kuserahkan.

Keningku mengernyit, “loh kenapa? Tadi kata Mama, krayon Theo hampir habis.”

Theo menghela nafas, “Punya Theo masih bisa dipakai. Sayang kan kalau yang ini nanti akan dibuang. Biar buat yang lain saja.”

“Kenapa harus dibuang, Theo? Kan Theo suka mewarnai,” tanyaku bingung.

“Bunda, Theo mungkin gak lama lagi dapet giliran ke surga. Belakangan ini Theo makin sering mimisan dan pingsan. Theo takut kalau nanti Theo ke surga, barang-barang Theo dibuang. sayang kan bun?”

Aku terpana. Kata-kata Theo bagai gong besar di telingaku. Anak-anak ini memang terbiasa menggunakan istilah giliran ke surga sebagai pengganti kata “meninggal dunia”. Aku bingung mesti menjawab apa, apalagi kulihat di belakang Theo terlihat mataMama Theo mulai berkaca-kaca saat mendengar jawaban anaknya.

Kusembunyikan rasa sedih dalam hatiku dengan tersenyum, “sini deh, Theo. Bunda ngasih krayon buat Theo, bukan hanya agar Theo senang karena bisa mewarnai. Tapi Bunda juga ingin karya Theo bisa meninggalkan kenangan buatMama Theo, buat Bunda, buat teman-teman Theo di sini.

Jadi kalau memang giliran ke surga jatuh pada Theo, kami di sini bisa mengenang Theo yang manis dan pandai mewarnai,” aku menarik nafas agar bisa tetap mengendalikan emosiku lalu kembali menyambung, “Theo, buat kami semua Theo adalah bagian dari hati kami, jadi apapun barang milik Theo tidak akan ada yang dibuang.

Jadi Theo jangan takut ya, pakailah!” aku kembali mengulurkan krayon itu pada Theo dan Theo menerimanya dengan anggukan. Ia melangkah mendekati Mamanya dengan tertatih. Aku buru-buru menghapus airmataku yang mulai menggenang.

Anak-anak ini memang sering membuatku seperti itu. Pembicaraan mereka bukanlah pembicaraan biasa. Kematian, rasa sakit, obat kanker, kemoterapi sampai kepala botak adalah hal biasa. Kadang mereka membuat model rambut unik di sisa-sisa rambut yang tertinggal agar dianggap lucu. Bagi mereka, kematian adalah proses perjalanan lain setelah hidup dan menerimanya sebagai pembebasan dari rasa sakit panjang mereka.

Berat rasanya melihat orang-orang yang kita sayangi, menjalani sakit yang luar biasa lalu menceritakannya seakan-akan itu adalah hal biasa terjadi. Dan aku hanya bisa melakukan hal kecil ini, menghibur dan mengisi hati mereka yang membosankan, membuat waktu singkat itu menjadi suatu kenangan luar biasa untuk orang-orang yang menyayangi mereka.

Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah hadiah dari Mama Theo. Dengan mata sembab karena menangis, ia menyodorkan beberapa buku mewarnai yang sudah selesai diwarnai. “Ini dari Theo, Bunda. Ia meminta saya memberikannya pada Bunda kalau giliran ke surganya tiba. Diterima ya Bunda, semoga bisa menjadi pembangkit semangat buat Bunda agar tetap memberi anak-anak lain semangat yang sama seperti Theo. Terima kasih karena sudah memberikan harapan dan hiburan buatnya selama ini.”

Airmataku meleleh tak terbendung. Kuambil hadiah itu dengan tangan gemetar, “Theo… kapan, kapan dia pergi, Mama?” tanyaku setengah tak percaya.

“Kemarin, tiga jam setelah kemoterapi. Dia meninggalkan kami… dia meninggal dalam tidurnya, Bunda,” dan sekali lagi airmata Mama Theo membasahi pipinya, aku memeluknya dan bersama kami menangis. Sama seperti saat-saat lain ketika bunda-bunda lain menyampaikan berita itu padaku, saat sahabat-sahabat kecilku dipanggil bergiliran ke surga.

Buat Semua Ibu yang selalu mendampingi putra-putri mereka saat sakit :
Semoga Allah SWT tetap memberi kalian semangat dan kekuatan… terutama Bunda-Bunda di Dharmais, senang berbicara dengan kalian. Optimis dan selalu tabah! (bundaiin)

Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat

15 Agu

Gresik, 15 Agustus 2011

Ditulis oleh : Aries Pratama Kurniawan

"Ganti Hati"

Menarik sekali untuk membaca dan meresapi tulisan Bapak Dahlan Iskan (CEO PLN), tulisan yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari salah satunya yang ada pada buku Ganti Hati yang ditulis oleh Bapak Dahlan Iskan. Tulisan ini sebenarnya bukan murni tulisan saya, namun saya cuplik kembali dari tulisan salah seorang kawan yang memberikan komentar terhadap tulisan dari Bapak Dahlan Iskan, tulisan yang mengangkat tema karakter dan kepribadian dari bangsa China, dalam berbagai kondisi baik susah maupun dalam keadaan berada, bangsa China tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak minder akan profesi yang bagi kebanyakan kita dianggap “rendahan”, dan tidak menjadi semena-mena saat mendapatkan posisi yang “nyaman”. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan “asupan gizi” bagi kita semua walaupun saat ini kita sedang menjalankan ibadah puasa. Berikut tulisan beliau yang saya lompati beberapa paragraf. Selamat membaca….!

——————————————————————————————————————————————-

…..saya sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria didalam lift atau dilobi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. “Siapa ya wanita cantik ini,” sering saya bertanya dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya.

Rupanya, biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatana rambutnya, cara membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia.

Perawat disini memang disediakan kamar mandi dan ruang ganti baju. Setiap masuk kerja, mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika pulang kerja. Ini agar kuman dan debu yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Maklum saat berangkat kerja banyak juga yang naik bus kota atau naik sepeda.

Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem, sama. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi begitu pulang, sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celanannya hot pan (maklum, musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaanya tukang pel lantai. Demikian juga, meski berangkat kerja dengan amat modisnya, ketika kerja “rendahan” tidak ogah-ogahan.

Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan di Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, tapi harga dirinya lebih baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga mereka itu kalau ketemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Dan itu menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini yang disebut social-capital atau modal sosial. Bank Dunia menyebut modal sosial ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok belakangan ini, disamping modal finansial.

Maka muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni satu moto ” Kaya Bermafaat, Miskin Bermartabat”. saya dan Zainal, dan banyak lagi yang lain, akan bisa jadi model perjuangan ini. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan ketika sudah menjadi kaya (duille!) tidak semena-mena.

Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit dibelakang pasar Ketajaya, Surabaya. Tidak jauh dari rel kereta api. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.

Waktu harus wawancara ke daerah industridi Tandes, Margomulyo, saya hanya punya uang Rp. 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya saja. dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp. 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp. 50. Selesai wawancara saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya, meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya.

Waktu suatu saat saya harus pulang kampung ke Kaltim tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket pesawat. Tapi saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik kendaraan umum berupa jeep terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Sebuah perjalanan menembus hutan Kalimantan dari selatan ke utara yang memakan waktu 2 hari satu malam. Belum ada bus waktu itu. saya hampir khawatir dengan istri saya. Maka saya bilang pada sopir agar istri saya boleh naik di kursi dekat sopir. “Istri saya hamil muda,” kata saya.

“Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat”, akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau bangsa yang kalau melihat orang kaya, yang muncul duluan adalah kecemburuannya. Bangsa yang mudah di sogok dan dipermainkan. Yang mudah dibayar untuk misalnya sekedar berdemo.

Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan yang rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin sekali meniru ini untuk saya laksanakan di kantor saya di Graha Pena Surabaya. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Kalau upaya ini berhasil, maka penampilan Graha Pena akan lebih “keren”. Dan harga diri pegawai bagian itu akan sama tingginya dengan bagian lain.

Lalu, muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di Indonesia menjadi cantik, para wanita yang lalu lalang di kota harus juga terlihat cantik. Betapa pun bersihnya sebuah kota kalau yang lalu-lalang didalamnya kumuh-kumuh, kan tidak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya menarik harus memberikan penduduk wanitanya barang-barang ini secara gratis : baju, lipstik, eye shadow, sepatu dan biaya ke salon.

Ide itu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan belum tentu lipstiknya digunakan. Bisa-bisa dijual. Sebab, filsafat “Kaya Bermanfaat, Miskin Bermanfaat” belum menjadi budaya.

Waktu mulai membenahi Jawa Pos yang hampir bangkrut di tahun 1982, saya pernah membelikan susu kepada karyawan percetakan yang kerja sepanjang malam. Tiap malam satu kaleng besar. Saya lihat karyawan di situ kurus-kurus, pucat-pucat dan loyo. Maklum gajinya amat kecil. Bahkan minum pun tidak disediakan oleh Jawa Pos. Mereka minum dari air keran. Begitu saya tahu, program susunisasi saya minta lakukan. Wenny, yang waktu itu pegawai rendahan dibagian umum (kini DIRUT Jawa Pos), saya minta tiap hari beli satu kaleng besar susu bubuk.

Tengah malam, ketika saya ke percetakan, saya lihat tidak ada bekas gelas minum susu. Saya tanya, mana susunya? sambil takut, salah satu menjawab. Ternyata susu itu dijual. Dijual secara bergilir. Hari ini karyawan A, besok karyawan B, lusa si C. Begitu seterusnya.

Harga diri harus dibangun juga. Memang perlu biaya. Untuk karyawan bagian cleaning service di Graha Pena, kami akan mencoba memberikan secara cuma-cuma dulu. Tentu tidak harus sampai pada hot pan, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. Saya berharap pemberian itu tidak akan dijual..

Salah satu kesimpulan saya adalah bahwa membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang rendah diri. Mereka bisa membedakan “rendah diri’ dan “rendah hati”. Sedang kita, kalau tidak mau dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat “unggah-ungguh”, “sopan-santun”, “tawaduk”, yang sebenarnya tetap bisa dilakukan tanpa harus jatuh ke derajat “rendah diri”.

——————————————————————————————————————————————–

sumber : catatan seorang kawan yang menghuni kamar kosong…

Tulisan Prof. Reinald Kasali, biar pemuda terkompori dan nggak nglutek ae di indonesia :) termasuk saya Hehehehe…

12 Agu

Tulisan Prof. Reinald Kasali, biar pemuda terkompori dan nggak nglutek ae di indonesia🙂 termasuk saya Hehehehe…

—————————————————————————————————-

Pasport – Jawapos 8 Agustus 2011

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa

berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan,

ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya

berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam.

Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini

berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa

PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan

memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki

“surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan

kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang

steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena

punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya

katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak

boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.

Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya

orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai

misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula

bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.

Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan

tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan

juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak

pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus

batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen

yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di

almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan

sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang

terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala

para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai

kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan

super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau

kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku

melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja

Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal

seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian

keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa

lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang

malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang

Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar

yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil

resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka

jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia

menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel

imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus

peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus

cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah

perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah

Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad

Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata

pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka

kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita

menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura

bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan

tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu

harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi

saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya

melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari

Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong

memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah

mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya

kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah

kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan

infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya

ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka

matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di

universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki

pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami

menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan

Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya

berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki

keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka

jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa

Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih

rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa

rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu

99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya

darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket,

menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan

mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya

ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso

sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri.

Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan

mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak

PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi

mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini

sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata

memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri

mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang

pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk

visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya

memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan

berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi

pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca,

perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa.

Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di

Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau

Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia

16 Mar

 

Pendahuluan

Mutu dari suatu produk sangat diperhatikan dalam suatu penjualan atau pembelian barang dan jasa. Pada bidang kelistrikan juga dikenal adanya mutu listrik. Pada dasarnya mutu listrik yang baik adalah listrik yang mempunyai tegangan dan frekuensi yang stabil (Sumani, 2002: 40). Untuk di Indonesia, listrik yang bersumber dari PLN adalah dengan tegangan 220 volt dan frekuensi 50 Hz.

Tegangan dan frekuensi yang tidak stabil bukan saja salah perusahaan listrik, tetapi peralatan-peralatan listrik yang digunakan konsumen juga dapat mempengaruhi mutu listrik. Terdapat banyak aspek yang dapat mempengaruhi berkurangnya mutu listrik. Salah satu aspek tersebut adalah timbulnya harmonisa pada gelombang listrik. Timbulnya harmonisa pada sistem tenaga listrik salah satunya disebabkan oleh adanya alat-alat yang mempunyai impedansi tidak linier. Contoh alat-alat yang mempunyai impedansi tidak linier adalah sebagai berikut (Marsudi, 2002: 2):

a. Penyearah (Rectifier).

b. Inverter, pengubah arus searah menjadi arus bolak-balik.

c. Pengubah frekuensi (Frequency Converteer) untuk mengatur putaran motor listrik.
d. Tungku busur listrik.

e. Lampu dengan pelepasan gas (Gas Discharge Lamp).

 

Dengan timbulnya harmonisa maka kualitas listrik yang disalurkan menjadi menurun, ini karena bentuk gelombang dari tegangan atau arus tidak lagi sinusoida murni namun sudah mengalami distorsi.

Salah satu contoh peralatan dengan impedansi tidak linier yang sekarang pemakaiannya sangat berkembang adalah lampu hemat energi. Oleh karena itu perlu untuk menganalisa harmonisa yang disebabkan lampu hemat energi untuk mengetahui tingkat gangguan harmonisa yang dihasilkan.

Harmonisa

Harmonisa adalah deretan gelombang arus atau tegangan yang frekuensinya merupakan kelipatan bilangan bulat dari frekuensi dasar tegangan atau arus itu sendiri. Bilangan bulat pengali pada frekuensi harmonisa adalah orde (n) dari harmonisa tersebut. Sebagai contoh, frekuensi dasar dari sistem kelistrikan di Indonesia adalah 50 Hz maka harmonisa kedua adalah 2 x 50 Hz (100 Hz), ketiga adalah 3 x 50 Hz (150 Hz), dan seterusnya hingga harmonisa ke n yang memiliki frekuensi n x 50Hz.

Distorsi dari bentuk gelombang harmonisa-harmonisa yaitu kedua, ketiga dan seterusnya dijumlahkan dengan gelombang dasar, maka bentuk gelombang tegangan atau arus akan terdistorsi.

Besar total gangguan dari harmonisa pada suatu sistem tenaga listrik dinyatakan dengan Total Harmonic Distortion (THD), yang didefinisikan sebagai berikut:

Dimana:
Vn : tegangan harmonisa pada orde ke-n
V1 : tegangan fundamental (Vrms)

Dengan rumus yang sama, gangguan harmonisa total untuk arus juga dapat dihitung yaitu mengganti komponen V dengan I. Adanya harmonisa pada sistem tenaga listrik akan mengakibatkan berbagai efek, di bawah ini adalah pengaruh-pengaruh harmonisa pada sistem tenaga listrik (Sulistiyo, 2003: 6).

 

a. Saluran transmisi
Aliran dari harmonisa arus pada konduktor akan menyebabkan bertambahnya rugi-rugi saluran sebagai akibat adanya pemanasan tambahan. Pemanasan tambahan ini disebabkan adanya arus harmonisa yang mengalir di saluran transmisi.

b. Transformator
Efek harmonisa pada transformator adalah harmonisa arus menyebabkan meningkatnya rugi-rugi tembaga, yang menyebabkan panas berlebih dan mempersingkat umur isolasi transformator.

c. Mesin-Mesin Berputar (Rotating Machines)
Pada mesin-mesin berputar, harmonisa akan menimbulkan panas tambahan sehingga menambah rugi-rugi tembaga dan besi, yang berpengaruh pada efisiensi mesin.

d. Bank Kapasitor (Capasitor Banks)
Terjadinya distorsi tegangan menyebabkan rugi daya tambahan pada kapasitorPada frekuensi yang lebih tinggi, besar reaktansi dari kapasitor akan menurun sehingga arus harmonisa yang mengalir ke kapasitor juga semakin besar.

e. Pengaruh harmonisa pada peralatan konsumen
Peralatan elektronik pada konsumen juga dapat terpengaruh oleh harmonisa.

Pada televisi: harmonisa akan mempengaruhi nilai puncak tegangan yang dapat berdampak perubahan pada ukuran gambar TV dan kecerahan TV.
Komputer: dapat mengganggu sistem pemrosesan data karena tegangan supply terdistorsi.
Terjadi kesalahan pada pembacaan di alat pengkukuran, contohnya adalah kWH meter.